Sediakan tisue sebelum membaca gan

Cerita Sex Mbak Mirna Tetanggaku Yang Seksi

Cerita Sex Mbak Mirna Tetanggaku Yang Seksi

Cerita Sex Mbak Mirna Tertanggaku Yang Seksi. Namaku Salim mahasiswa di suatu universitas populer di Surakarta. Di kampungku suatu desa di pinggiran kota Sragen terdapat seseorang wanita, Mirna namanya. Mirna ialah wanita yang menawan, berkulit kuning dengan body yang padat didukung bentuk badan badan yang besar membuat seluruh kalangan Adam menelan ludah dibuatnya. Begitu pula dengan saya yang secara diam- diam menyimpan hati padanya meski umurku 5 tahun dibawahnya, tetapi rasa mau mempunyai serta nafsuku lebih besar dari pada mengingat selisih usia kami.

Kebetulan rumah Mbak Mirna pas di samping rumahku serta rumah itu rasanya tidak memiliki kamar mandi di dalamnya, melainkan dinding kecil yang terdapat di luar rumah. Kamar Mbak Mirna terletak di samping kanan rumahku, dengan suatu jendela kaca hitam dimensi lagi. Kerutinan Mbak Mirna bila tidur lampu dalam rumahnya senantiasa menyala, itu kuketahui sebab kerutinan burukku yang suka mengintip orang tidur, saya sangat terangsang bila memandang Mbak Mirna lagi tidur serta kesimpulannya saya melaksanakan onani di depan jendela kamar Mbak Mirna.

Waktu itu saya kembali dari kuliah melalui balik rumah sebab tadinya saya membeli rokok di warung yang terletak di balik rumahku. Dikala saya melewati dinding Mbak Mirna, saya memandang wujud badan yang sangat kukenal yang cuma terbungkus handuk putih bersih, tidak lain merupakan Mbak Mirna, serta saya menyapanya,

“ Ingin mandi Mbak,” sembari menahan perasaan yang tidak menentu.

“ Iya Ndik, ingin ikutan..” jawabnya dengan senyum lebar, saya cuma tertawa menjawab candanya.

Cerita Berusia Terbersit hasrat jahat di hatiku, perasaanku menerawang jauh membanyangkan badan Mbak Mirna apabila tidak tertutup sehelai benangpun.

Hasrat itupun kulakukan walaupun dengan badan gemetar serta detak jantung yang memburu, kebetulan waktu itu kondisi sepi dengan keremangan sore membuatku lebih bebas. Setelah itu saya menekuni suasana di dekat dinding tempat Mbak Mirna mandi, sehabis memperkirakan kondisi nyaman saya mulai beroperasi serta mengendap- endap mendekati dinding itu. Dengan detak jantung yang memburu saya mencari tempat yang strategis buat mengintip Mbak Mirna mandi serta dengan gampang saya menciptakan suatu lubang yang lumayan besar seukuran 2 jari.

Dari lubang itu saya lumayan bebas menikmati kemolekan serta keelokan badan Mbak Mirna serta mendadak itu pula detak jantungku berdetak lebih kilat dari tadinya, tubuhku gemetar sampai kakiku terasa tidak bisa menahan berat badanku. Kulihat badan yang begitu sintal serta padat dengan kulit yang bersih lembut begitu memicu tiap nafsu lelaki yang melihatnya, terlebih sejoli panyudara dengan dimensi yang begitu menggairahkan, kuning langsat dengan puting yang coklat tegak menantang tiap lelaki.

Setelah itu kupelototi badannya dari atas ke dasar tanpa terlampaui semilipun. Pas di antara kedua kaki yang jenjang itu terdapat segumpal rambut yang rimbun serta gelap, begitu indah serta dikala itu tanpa siuman saya mulai merendahkan reitsletingku serta memegangi kemaluanku, saya mulai membayangkan seandainya saya bisa menyetubuhi badan Mbak Mirna yang begitu memicu birahiku. Terasa darahku mengalir dengan kilat serta dengusan nafasku terus menjadi memburu tatkala saya merasakan kemaluanku begitu keras serta berdenyut- denyut.

Saya memesatkan gerakan tanganku mengocok kemaluanku, tanpa siuman saya mendesah sampai mengusik keasyikan Mbak Mirna mandi serta saya begitu kaget pula khawatir kala memandang Mbak Mirna melirik lubang tempatku mengintipnya mandi sembari mengatakan,

“ Ndik ngintip yaaa…”

Mendadak itu pula nafsuku lenyap entah kemana berubah dengan rasa khawatir serta malu yang luar biasa. Setelah itu saya rehat serta mengisap rokok Mild yang kubeli saat sebelum kembali ke rumah, setelah itu kulanjutkan kegiatanku yang terhenti sesaat.

Sehabis saya mulai beraksi lagi, saya kaget buat kedua kalinya, seakan- akan Mbak Mirna ketahui hendak kehadiranku lagi. Dia terencana memamerkan keelokan badannya dengan meliuk- liukkan badannya serta meremas- remas payudaranya yang begitu indah serta dia mendesah- desah kenikmatan. Dikala itu pula saya menghasilkan kemaluanku serta mengocoknya kuat- kuat. Memandang game yang di perlihatkan Mbak Mirna, saya sangat terangsang mau rasanya saya menerobos masuk dinding itu tetapi terdapat rasa khawatir serta malu. Terpaksa saya cuma dapat memandang dari lubang tempatku mengintip.

Setelah itu Mbak Mirna mulai meraba- raba segala badannya dengan tangannya yang halus diiringi goyangan- goyangan pinggul, tangan kanannya menyudahi pas di liang kewanitaannya serta mulai mengusap- usap bibir kemaluannya sendiri sembari tangannya yang lain di masukkan ke bibirnya. Setelah itu jemari tangannya mulai dipermainkan di atas kemaluannya yang begitu menantang dengan posisi salah satu kaki dinaikan di atas bak mandi, pose yang sangat memicu kelelakianku.

Saya merasa terdapat suatu yang menekan keluar di kemaluanku serta kesimpulannya sembari mendesah lirih,

“ Aahhkkkhh…” saya hadapi puncak kepuasan dengan melaksanakan onani sembari memandang Mbak Mirna masturbasi.

Sebagian dikala setelah itu saya pula mendengar Mbak Mirna mendesah lirih,

“ Oohhh.. aaahh..” ia pula menggapai puncak kenikmatannya serta kesimpulannya saya meninggalkan tempat itu dengan perasaan puas.

Di sesuatu sore saya berpapasan dengan Mbak Mirna.

“ Mari Ndik,” ajaknya buat mendekat, saya cuma menjajaki kemauannya, terbersit perasaan aneh dalam benakku.

“ Ingin kemana sore- sore ini,” tanyanya setelah itu.

“ Ingin keluar Mbak, beli rokok..” jawabku sekenanya.

“ Di mari aja temani Mbak Mirna ngobrol, Mbak Mirna kesepian nih..” ajak Mbak Mirna.

Dengan lama- lama saya mengambil tempat persis di depan Mbak Mirna, dengan hasrat supaya saya bebas memandangi paha lembut kepunyaan Mbak Mirna yang kebetulan hanya mengenakan rok mini diatas lutut.

“ Emangnya pada kemana, Mbak..” saya mulai menyelidik.

“ Ayah sama Bunda berangkat ke rumah nenek,” jawabnya sembari tersenyum curiga.

“ Emang terdapat kegiatan apa Mbak,” tanyaku lagi sembari melirik paha yang halus lembut itu kala rok mini itu terus menjadi tertarik ke atas.

Sembari tersenyum manis dia menanggapi,

“ Nenek lagi sakit Ndik, yaa… jadi saya wajib nunggu rumah sendiri.”

Saya cuma manggut- manggut.

“ Eh… Ndik ke dalam ayo, di luar banyak angin,” katanya.

“ Mbak memiliki CD bagus lho,” katanya lagi.

Tanpa menunggu persetujuanku dia langsung masuk ke dalam, mengarah Televisi yang di atasnya ada

VCD player serta saya cuma mengikutinya dari balik, basa- basi saya bertanya,

“ Filmnya apa Mbak..”

Sembari menyalakan VCD, Mbak Mirna menanggapi,

“ Titanic Ndik, udah sempat nonton.”

Saya berbohong menanggapi,

“ Belum Mbak, filmnya bagus ya..”

Mbak Mirna cuma mengangguk mengiyakan pertanyaanku.

Sehabis film terputar, tanpa siuman saya tertidur sampai larut malam serta entah kenapa Mbak Mirna pula tidak membangunkanku. Saya memandang arloji yang bergantung di bilik tembok di atas Televisi menunjukkan pas jam 10 malam. Saya menebarkan pemikiran ke sekitar ruangan yang terlihat hening serta tidak kutemui Mbak Mirna.

Pikiranku mulai dirasuki pikiran- pikiran yang kurang baik serta pikirku sekaligus tidur disini aja. Memanglah saya kerap tidur di rumah sahabat serta orang tuaku telah hafal dengan kebiasaanku, akupun tidak mencemaskan bila orang tuaku mencariku. Waktu lalu, mataku juga tidak dapat terpejam sebab benak serta perasaanku mulai kacau, pikiran- benak sesat sudah mendominasi sebagian ide sehatku serta terbersit hasrat buat masuk ke kamar Mbak Mirna.

Saya kaget serta nafasku memburu, jantungku berdetak kencang kala memandang pintu kamar Mbak Mirna terbuka lebar serta di atas tempat tidur tergolek wujud badan yang indah dengan posisi terlentang dengan kaki ditekuk ke atas separuh lutut sampai nampak sejoli paha yang gempal serta di tengah selakangan itu nampak dengan jelas CD yang bercorak putih tumbuh nampak terdapat gundukan yang seakan- akan penuh dengan isi sampai ingin keluar.

Nafsu serta darah lelakiku tidak tertahan lagi, kuberanikan mendekati badan yang cuma dibungkus dengan kain tipis serta dengan lama- lama kusentuh paha yang putih itu, kuusap dari dasar hingga ke atas serta saya kaget kala terdapat gerakan pada badan Mbak Mirna serta saya bersembunyi di dasar kolong tempat tidur. Sesaat setelah itu saya kembali keluar memandang kondisi serta posisi tidur Mbak Mirna yang menaikkan darah lelakiku berdesir hebat, dengan posisi kaki mengangkang terbuka lebar seakan- akan menantang biar lekas dimasuki kemaluan pria.

Saya terus menjadi berani serta mulai naik ke atas tempat tidur, tanpa pikir panjang saya mulai menjilati kedua kaki Mbak Mirna dari dasar hingga ke belahan paha tanpa terlampaui semilipun. Mendadak itu pula dia menggelinjang kenikmatan serta saya telah tidak mempedulikan rasa khawatir serta malu terhadap Mbak Mirna. Hingga di selangkangan, saya merasa kepalaku dibelai kedua tangan yang halus serta akupun tidak menghiraukan kedua tangan itu.

Lama- kelamaan tangan itu terus menjadi kokoh menekan kepalaku lebih masuk lagi ke dalam kemaluan Mbak Mirna yang masih terbukus CD putih itu. Ia menggoyang- goyangkan pantatnya, tanpa pikir panjang saya menjilati bibir kemaluannya sampai CD yang semula kering jadi basah terserang cairan yang keluar dari dalam liang kewanitaan Mbak Mirna serta bercampur dengan air liurku.

Saya mulai menyibak penutup liang kewanitaan serta menjilati bibir kemaluan Mbak Mirna yang memerah serta mulai berdahak sampai Mbak Mirna terbangun serta tersentak. Secara refleks ia menampar wajahku 2 kali serta mendesak tubuhku kuat- kuat sampai saya tersungkur ke balik serta sehabis siuman dia berteriak tidak sangat keras.

Cerita Sex Mbak Mirna Tetanggaku Yang Seksi

“ Ndik kalian ngapaiiin…” dengan gemetar serta perasaan yang bercampur aduk antara malu serta khawatir.

“ Maafkan saya Mbak, saya lepas kontrol,” dengan terbata- bata serta saya meninggalkan kamar itu.

Dengan perasaan berat saya menghempaskan pantatku ke kursi biru yang lusuh. Sesaat setelah itu Mbak Mirna menghampiriku, dengan tergagap saya mengulangi permintaan maafku,“ Ma.. ma.. afkan… saya Mbak..” Mbak Mirna hanya diam entah apa yang dipikirkan serta ia duduk pas di sampingku. Sebagian dikala keheningan menyelimuti kami berdua serta kamipun disibukkan dengan benak kami tiap- tiap hingga tertidur.

Pagi itu saya bangun, kulihat Mbak Mirna telah tidak terdapat lagi di sisiku serta sesaat setelah itu hidungku memcium aroma yang memforsir perutku menghasilkan gemuruh yang hebat. Mbak Mirna memanglah pakar dibidang masak. Seketika saya mendengar bisikan yang merdu memanggil namaku.

“ Ndik mari makan dahulu, Mbak udah siapin makan pagi nih,” dengan nada lembut yang seolah- olah tadi malam tidak terdapat peristiwa apa- apa.

“ Iya Mbak, saya mencuci muka dahulu,” saya menanggapi dengan malas.

Sesaat setelah itu kami sudah melahap hidangan buatan Mbak Mirna yang terdapat di atas meja, begitu lezatnya masakan itu sampai tidak terdapat yang tersisa, seluruh kuhabiskan. Sehabis itu semacam biasa, saya menyalakan rokok Mild kesayanganku.

“ Ndik maafkan Mbak tadi malam ya,” Mbak Mirna memecah keheningan yang kami mengadakan.

“ Harusnya saya tidak berlaku agresif padamu Ndik,” tambahnya.

Saya jadi bimbang serta menduga- duga apa iktikad Mbak Mirna, setelah itu akupun menanggapi,

“ Sepatutnya saya yang memohon maaf pada Mbak, saya yang salah,” kataku dengan menundukkan kepala.

“ Tidak Ndik.. saya yang salah, saya sangat agresif kepadamu,” bisik Mbak Mirna.

Akupun mulai dapat menangkap kemana arah perkataan Mbak Mirna.

“ Kok dapat gitu Mbak, kan saya yang salah,” tanyaku memancing.

“ Tidak Ndik.. saya yang salah,” katanya dengan tenang.

“ Sebab saya teledor, tetapi tidak pa- pa kok Ndik.”

Saya kaget mendengar jawaban itu.

“ Ndik, Mbak Mirna nanya boleh tidak,” bisik Mbak Mirna mesra.

Dengan senyum mengembang saya menanggapi,“ Mengapa tidak Mbak.”

Dengan ragu- ragu Mbak Mirna melanjutkan kata- katanya

“ Kalian udah memiliki pacar Ndik..” suara itu pelan sekali lebih mirip dengan bisikan.

“ Dahulu sih udah Mbak tetapi saat ini udah bubaran.” Kulihat terdapat pergantian di wajah Mbak Mirna.

“ Mengapa Ndik,” serta akupun mulai menceritakan tentang hubunganku dengan Maria sahabat SMP- ku dahulu yang lari dengan

pria lain sebagian bulan yang kemudian, Mbak Mirna juga mencermati dengan sesekali memotong ceritaku.

“ Kalo Mbak Mirna udah memiliki laki- laki belum,” tanyaku dengan berharap.

“ Belum tuh Ndik, lagian siapa yang ingin sama perawan tua semacam saya ini,” jawabnya dengan raut wajah yang diselimuti mendung.

“ Kalian tidak cari pacar lagi Ndik,” sambung Mbak Mirna.

Dengan mendengus pelan saya menanggapi.

“ Saya khawatir peristiwa itu terulang, khawatir kehabisan lagi.”

Dengan senyum yang manis ia mendekatiku serta membelai rambutku dengan mesra.

“ Kasian kalian Andi..” kemudian Mbak Mirna mencium keningku dengan lembut, saya merasa terdapat sejoli barang yang lembut serta hangat melekat di punggungku.

Sesaat setelah itu perasaanku melayang entah kemana, terdapat getaran asing yang belum sempat kurasakan sepanjang ini.

“ Ndik boleh Mbak jadi pengganti Maria,” bisik Mbak Mirna mesra.

Saya bimbang, perasaanku berkecamuk antara bahagia serta khawatir.

“ Andik khawatir Mbak,” jawabku lirih.

“ Mbak tidak hendak meninggalkanmu Ndik, percayalah,” dengan kecupan yang lembut.

“ Bener Mbak, Mbak Mirna berani sumpah tidak hendak meninggalkan Andik,” bisikku otomatis sebab gembira.

Mbak Mirna mengangguk dengan senyumnya yang manis, kamipun berpelukan erat seakan- akan tidak hendak terpisahkan lagi.

Sehabis itu kami nonton Film yang banyak adegan romantis yang secara tidak siuman membuat kami berpelukan, yang membuat kemaluanku berdiri. Entah disengaja ataupun tidak, setelah itu Mbak Mirna mulai merebahkan kepalanya di pangkuanku serta saya berupaya menahan nafsuku sekuat bisa jadi tetapi bisa jadi Mbak Mirna mulai menyadarinya.

“ Ndik kok kalian gerak terus sih letih ya.”

Dengan tersipu malu saya menanggapi,

“ Eh… tidak Mbak, malah Andik suka kok.”

Mbak Mirna tersenyum,

“ Tetapi kok gerak- gerak terus Ndik..”

Saya mulai kebimbangan,

“ Eh.. anu kok.”

Mbak Anak menyahut,

“ Apaan Ndik, buat penasaran aja.”

Setelah itu Mbak Mirna bangun dari pangkuanku serta mulai mengecek apa yang bergerak di dasar kepalanya serta iapun tersenyum manis sembari tertawa.

“ Hii.. hii.. ini to tadi yang bergerak,”

tanpa canggung lagi Mbak Mirna membelai barang yang semenjak tadi bergerak- gerak di dalam celanaku serta saya terus menjadi tidak dapat menahan nafsu yang bergelora di dalam dadaku. Kuberanikan diri, tanganku membelai mukanya yang menawan serta Mbak Mirna  semacam menikmati belaianku sampai matanya terpejam serta bibirnya yang sensual itu terbuka sedikit semacam menanti kecupan dari seseorang pria.

Tanpa pikir panjang, kusentuhkan bibirku ke bibir Mbak Mirna serta saya mulai melumat habis bibir yang merah merekah serta kami silih melumat bibir. Saya begitu kaget kala Mbak Mirna memainkan lidahnya di dalam mulutku serta kayaknya lidahku ditarik ke dalam mulutnya, setelah itu tangan kiri Mbak Mirna memegang tanganku serta dibimbingnya ke belahan dadanya yang membusung serta tangan yang lain sedari tadi asik memainkan kemaluanku. Akupun mulai berani meremas- remas buah dadanya serta Mbak Mirnapun menggelinjang kenikmatan

“ Te.. rus… Ndik aaahh…” Setelah itu dengan tangan yang satunya lagi kuelus dengan lembut paha putih lembut Mbak Mirna, terus menjadi lama terus menjadi ke atas.

Seketika saya diguncang tangan Mbak Mirna yang semula terdapat di luar celana serta saat ini telah mulai berani membuka reitsletingku serta menerobos masuk meremas- remas buah zakarku sembari mengatakan:

“ Sayang.. punyamu besar pula ya..”

Akupun mulai berani mempermainkan kemaluan Mbak Mirna yang masih terbungkus CD serta iapun terus menjadi menggeliat semacam cacing kepanasan,

“ Aaahh lepas aja Ndik..”

Sesaat setelah itu CD yang melindungi bagian vital Mbak Mirna telah terhempas di lantai serta akupun mulai mempermainkan daging yang terdapat di dalam liang senggama Mbak Mirna.

“ Aaahhh lezat, lezat Ndik masukkan aja Ndik,” jariku mulai masuk lebih dalam lagi, nyatanya Mbak Mirna telah tidak perawan lagi, miliknya telah agak longgar serta jariku begitu mudahnya masuk ke liang kewanitaannya.

Satu demi satu baju kami terhempas ke lantai hingga badan kami berdua polos tanpa selembar benang juga. Mbak Mirna langsung memegang batang kemaluanku yang telah membengkak serta tegak berdiri, setelah itu langsung diremas- remas serta diciumnya. Saya cuma dapat memejamkan mata merasakan kenikmatan yang dikasih Mbak Mirna dikala bibir yang lembut itu mengecup batang kemaluanku sampai basah oleh air liurnya yang hangat. Kemudian lidah yang hangat itu menjilati sampai memunculkan kenikmatan yang tidak bisa ditafsirkan.

Tidak puas menjilati batang kemaluanku, Mbak Mirna memasukkan batang kemaluanku ke mulutnya yang sensual itu sampai amblas setengahnya, secara refleks kugoyangkan pantatku maju mundur dengan pelan sembari memegangi rambut Mbak Mirna yang gelap serta lembut yang menaikkan gairah seksualku serta aroma harum yang membuatku terus menjadi terangsang.

Sehabis puas, Mbak Mirna menghempaskan pantatnya di kursi. Akupun mengerti serta dengan posisi kaki Mbak Mirna mengangkang tiba kedua pundakku, saya langsung mencium paha yang jenjang dari dasar hingga ke atas. Mbak Mirna menggelinjang keenakan,“ Aaahhh…” desahan kenikmatan yang membuatku tambah bernafsu serta langsung bibir kemaluannya yang merah merekah itu kujilati hingga basah oleh air liur serta cairan yang keluar dari liang kenikmatan Mbak Mirna.

Mataku terbelalak dikala memandang di dekat bibir kenikmatan itu ditumbuhi bebuluan yang halus serta rimbun semacam rawa yang di tengahnya terdapat pulau merah merekah. Tanganku mulai beraksi menyibak kelebatan bebuluan yang berkembang di pinggir liang kewanitaan, begitu indah serta merangsangnya liang sorga Mbak Mirna kala klitoris yang memerah menjulur keluar serta langsung kujilati sampai Mbak Mirna meronta- ronta kenikmatan serta tangan Mbak Mirna memegangi kepalaku dan mendesak lebih ke dalam kedua pangkal pahanya sembari menggoyanggoyangkan pinggulnya sampai saya kesusahan bernafas. Tanganku yang satunya meremas- remas serta memelintir puting susu yang telah membeku sampai menaikkan kenikmatan untuk Mbak Mirna.

“ Ndik.. udah… aaahhh, masukin.. ajaaa.. ooohh…” saya langsung berdiri serta siap- siap memasukkan batang kemaluanku ke lubang senggama Mbak Mirna.

Begitu menantang posisi Mbak Mirna dengan kedua kaki mengangkang sampai kemaluannya yang merah mengkilat serta klitorisnya yang menonjol membuatku lebih bernafsu buat meniduri badan Mbak Mirna yang seksi serta lembut itu.

Lama- lama tetapi tentu, batang kemaluanku yang basah serta tegak kumasukkan ke dalam liang kewanitaan yang sudah menganga menantikan kenikmatan sorgawi. Sehabis batang kemaluanku terbenam kami secara bertepatan melenguh kenikmatan,

“ Aaahh…” serta mulai kugoyangkan lama- lama pinggulku maju mundur, bagaikan terbang ke angkasa kenikmatan tiada tara kami reguk bersama.

Bibir kamipun mulai silih memagut serta lidah Mbak Mirna mulai bermain- main di bilik rongga mulutku, begitu nikmat serta hanggat. Liang senggama Mbak Mirna yang telah penuh dengan lendir kenikmatan itupun mulai memunculkan suara yang bisa tingkatkan gairah seks kami berdua. Badan kamipun bermandikan keringat.

Seketika terdengar teriakan memanggil Mbak Mirna.

“ Aaaan… Mirrnaaa..”

Kami begitu kaget, bimbang serta grogi dengan bergegas kami memungut baju yang berantakan di lantai serta memanfaatkannya. Tanpa siuman kami salah ambil celana dalam, saya mengenakan CD Mbak Mirna serta Mbak Mirna pula mengenakan CD- ku. Setelah itu saya keluar dari pintu balik serta Mbak Mirna membukakan pintu buat ayah serta ibunya.

Keesokan harinya saya baru bernazar mengembalikan CD kepunyaan Mbak Mirna serta mengambil CD- ku yang kemarin tertukar. Saya berjalan melewati lorong kecil diantara rumahku serta rumah Mbak Mirna. Kulihat Mbak Mirna lagi cuci baju di dekat sumur balik rumahku. Sehabis kondisi nyaman, saya mendekati Mbak Mirna yang asik cuci baju tercantum CD- ku yang kemarin tertukar. Sembari menghirup rokok sampurna A Mild,

“ Mbak nih CD- nya yang kemarin tertukar,” sembari duduk di bibir sumur, sekilas kami bertatap muka serta meledaklah tawa kami bertepatan,

“ Haa.. Haaaa…” mengingat peristiwa kemarin yang sangat menggelikan. Sehabis tawa kami mereda, saya membuka obrolan,

“ Mbak kapan main lagi, kan kemarin belum puas.” Dengan senyum yang manis,

“ Kalian ingin lagi Ndik, saat ini pula boleh..” Saya jadi terangsang sewaktu posisi Mbak Mirna membungkuk dengan menggunakan daster tidur serta dijinjing hinggga di atas lutut.

“ Emang bunda Mbak Mirna telah berangkat ke sawah, Mbak,” sembari melekatkan kemaluanku yang mulai membeku ke pantat Mbak Mirna.

“ Eh…eh jangan disini Ndik, entar diliat orang kan dapat runyam.”

Setelah itu Mbak Mirna mengajakku masuk ke kamar mandi, sesaat setelah itu di dalam kamar mandi kami telah berpelukan serta semacam kesetanan saya langsung menciumi serta menjilati leher Mbak Mirna yang putih bersih.

“ Ohhh tidak sabaran baget sih Ndik,” sembari melenguh Mbak Mirna berbisik lirih.

“ Kan kemaren tersendat Mbak.”

Sehabis puas mencium leher saya mulai mencium bibir Mbak Mirna yang merah merekah, tanganku juga mulai meremas- remas kedua bukit yang mulai merekah serta tangan yang satunya lagi beroperasi di bagian kemaluan Mbak Mirna yang masih terbungkus CD yang halus serta tangan Mbak Mirna juga mulai menyusup di dalam celanaku, memainkan batang kemaluanku yang mulai tegak serta berdenyut.

Sesaat setelah itu baju kami mulai tercecer di lantai kamar mandi sampai badan kami polos tanpa sehelai benangpun. Badan Mbak Mirna yang begitu seksi serta menggairahkan itu mulai kujilati mulai dari bibir turun ke leher serta menyudahi pas di tengah kedua buah dada yang ranum dengan dimensi yang lumayan besar. Setelah itu sembari meremas- remas belahan dada yang kiri puting susu yang kecoklatan itu kujilati sampai tegak serta keras.

“ Uhhh.. ahhh.. terus Ndik,”

Mbak Mirna melenguh kenikmatan kala puting susu yang membeku itu kugigit serta kupelintir memakai gigi depanku.

“ Aaahhh.. lezat Mbak..”

Mbak Mirnapun mengocok serta meremas batang kemaluanku sampai berdenyut hebat.

Setelah itu saya duduk di bibir bak mandi serta Mbak Mirna mulai memainkan batang kemaluanku dengan metode mengocoknya.

“ Ahhh.. uhhhhh..” tangan yang halus itu setelah itu meremas buah zakarku dengan lembut serta bibirnya mulai menjilati batang kemaluanku. Terasa nikmat serta hangat kala lidah Mbak Mirna memegang lubang berkemih serta memasukkan air liurnya ke dalamnya. Sehabis puas menjilati, bibir Mbak Mirna mulai mengulum sampai batang kemaluanku masuk ke dalam mulutnya.

“ Aahhh… uuuhhff…” lidah Mbak Mirna menjilat kemaluanku di dalam mulutnya, kedua tanganku memegangi rambut yang lembut serta harum yang menaikkan gairah sekalian menekan kepala Mbak Mirna biar lebih dalam lagi sampai batang kemaluanku masuk ke mulutnya.

“ Gantian dong Ndik,”

Mbak Mirna  mengiba memintaku bergantian berikan kenikmatan kepadanya. Setelah itu saya memainkan kedua puting susu Mbak Mirna, mulutku mulai bergerak ke dasar mengarah selakangan yang banyak ditumbuhi bebuluan yang halus serta rimbun. Mbak Mirnapun tanpa dikomando langsung mengangkangkan kedua kakinya sampai kemaluannya yang begitu indah memicu tiap birahi pria itu nampak serta klitorisnya yang kemerahan menonjol keluar, akupun menjilati klitoris yang kemerahan itu sampai berdahak serta membasahi bibir kemaluan Mbak Mirna.

“ Aaahhh… aaahh… terus… lezat..”

Cerita Sex Mbak Mirna Tetanggaku Yang Seksi

Mbak Mirna menggelinjang hebat dengan memegangi kepalaku, kedua tangannya menekan lebih ke dalam lagi.

Sehabis liang kenikmatan bak Mirna mulai basah dengan cairan yang mengkilat serta bercampur dengan air liur, setelah itu saya memasukkan kedua jariku ke dalam liang kewanitaan Mbak Mirna serta kumainkan maju mundur sampai Mbak Mirna menggelinjang hebat serta tidak tahan lagi.

“ Ndik.. ooohh.. ufff cepetan masukin aja..”

Dengan posisi berdiri serta sebelah kaki dinaikkan ke atas bibir bak mandi, Mbak Mirna mulai menyuruh memasukkan batang kemaluanku ke liang senggamanya yang semenjak tadi menunggu hujaman kemaluanku. Setelah itu saya memegang batang kemaluanku serta mulai memasukkan ke liang kewanitaan Mbak Mirna.

“ Aahhh…” kami bertepatan merintih kenikmatan, lama- lama kuayunkan pinggulku maju mundur serta Mbak Mirna menjajaki dengan memutar- mutar pinggulnya yang menyebabkan batang kemaluanku semacam disedot serta diremas daging hidup sampai memunculkan kenikmatan yang tiada tara.

Setelah itu kuciumi bibir Mbak Mirna serta kuremas buah dadanya yang montok sampai Mbak Mirna memejamkan matanya menahan kenikmatan.

“ Ahhh… uhhh…” Mbak Mirna melenguh serta berbisik,

“ Lebih kenceng lagi Ndik.”

Setelah itu saya lebih memesatkan gerakan pantatku sampai memunculkan suara becek,

“ Jreb.. crak.. jreb.. jreb…” suara yang menaikkan gairah dalam bermain seks sampai kami bermandikan keringat.

Sehabis bosan dengan posisi semacam itu, Mbak Mirna  mengganti posisi dengan membungkuk, tangannya berpegangan pada bibir bak mandi setelah itu saya memasukkan batang kemaluanku dari balik. Terasa nikmat sekali kala batang kemaluanku masuk ke liang senggama Mbak Mirna. Terasa lebih kecil serta terganjal pinggul yang empuk. Setelah itu tanganku memegangi leher Mbak Mirna serta tangan yang lain meremas puting susunya yang bergelantungan.

“ Uuuhhh… ahhh lezat Ndik,” serta saya terus menjadi memesatkan gerakan pantatku.

“ Uuuhhh.. uuuhhh Ndik, Mbak ingin keluar,” akupun merasakan bilik kemaluan Mbak Mirna mulai mengencang serta berdenyut begitu pula batang kemaluanku mulai berdenyut hebat.

“ Uuuhhhk.. aahh.. saya pula Mbak..”

Setelah itu badan Mbak Mirna mengejang serta memesatkan goyangan pinggulnya kemudian sesaat setelah itu ia menggapai orgasme,

“ Aaahh… uuuhh…”

Terasa cairan hangat membasahi batang kemaluanku serta suara decakan itupun terus menjadi membecek

“ Jreeb… crak… jreb..”

Akupun tidak tahan lagi merasakan segumpalan suatu hendak keluar dari lubang kencingku.

“ Aaahhh… ooohhh… Mbak Mirrnaaa…”

Terasa tulang- tulangku lepas seluruh, begitu letih. Akupun senantiasa terletak di atas badan sintal Mbak Mirna. Setelah itu kukecup leher serta mulut Mbak Mirna,

“ Makasih Mbak, Mbak Mirna memanglah hebat..”

Mbak Mirnapun hanya tersenyum manis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar