
Paginya sehabis siuman ia di antar kembali serta pacar ataupun kedua temannya menghilang entah kemana. Sehabis lulus SMA kesimpulannya ia memutuskan buat kuliah di Bali jurusan hotel serta tourisme.
Semenjak kuliah di Bali juga ia telah sebagian kali melaksanakan sex dengan sebagian sahabat kuliah- nya. Ikatan kami juga hanya bagaikan sahabat, tidak lebih, ikatan kami bersumber pada suka sama suka. Bisa jadi sebab umur ku yang lebih muda.
Cuma saja saya bisa dengan bebas buat badannya kapan saja saya ingin. Hubunganku dengan Eka juga tidak dikenal oleh Wati kakaknya yang telah bekerja di salah satu hotel di kawasan Jimbaran.
Wati , tidak kalah cantiknya dengan Eka . Keduanya mempunyai kulit yang putih bersih. Wati lebih berusia dalam pembawaan serta lezat pula diajak ngobrol. Sebab Wati pula menawan saya kerap bercanda dengan Eka berkata mau ketahui rasanya apabila berhubungan dengan Wati. Eka kadangkala tertawa serta kadangkala marah kalo saya mengatakan begitu. Walaupun marah, Eka hendak lenyap kemarahannya jika kucumu lagi.
Semacam halnya sore itu, Kala saya baru kembali kuliah, kulihat kamar Eka terbuka namun tidak terdapat orang didalamnya. Sebab suasana kost yang hening akupun masuk ke kamarnya serta mendengar terdapat yang lagi mandi serta akupun menutup pintu kamar Eka . Telah seminggu lebih saya menginap di Denpasar sebab lagi tes akhir.
Sehabis pintu kututup, kupanggil Eka yang terdapat dikamar mandi.
“ Ka, lagi mandi yah? tanyaku basa- basi.
Tidak terdapat jawaban dari dalam kamar mandi. Akupun melanjutkan.
“ Kalian marah yah Ka?, Maaf yah saya gak kasih ketahui kalian kalo saya ingin nginep di Denpasar. Hari ini saya ingin buat kalian puas Ka. Saya hendak cium kalian, buat kalian puas hari ini. Saya aka.
“ Mandi kucing kan kalian Ka mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki.” Rayuku.
Masih tidak terdapat jawaban dari dalam kamar mandi.
“ Ka, ingat film yang dahulu kita tonton kan. Saya hendak buat kalian puas sebagian kali hari ini saat sebelum kau rasakan penisku ini Ka. Saya hendak cium vaginamu hingga kau menggelinjang puas serta meminta supaya saya memasukkan penisku”.
Terdengar suara batuk kecil dari dalam kamar mandi.
“ Ka, kututup pintu serta gordennya yah Ka”. Akupun berputar serta menutup gordin jendela yang memanglah masih terbuka.
Kala gordin kututup, kudengar pintu kamar mandi terbuka. Akupun tersenyum serta bersorak dalam hati. Sehabis saya menutup gordin akupun berputar. Serta nyatanya, yang terdapat dalam kamar mandi itu merupakan Wati, kakak Eka , yang baru saja berakhir mandi keluar dengan memakai bathrope bercorak pink serta duduk diatas tempat tidur dengan kaki bersilang serta nampak dari belahan bathropenya.
Kaki yang putih terpelihara, betisnya yang indah nampak terus sampai ke pahanya yang putih, kencang serta seksi sangat menantang sekali buat dielus.
Belum lagi silangan bathrope di dadanya agak kebawah sehingga nampak dada putih serta belahan payudaranya. Kukira dimensi Branya sedikit lebih besar dari Eka , sebab saya belum sempat menyentuhnya.
“ Eka lagi ke Yogya, ia lagi Praktek kerja sepanjang 2 bulan” Kata Wati sembari memainkan tali bathrope- nya.
“ Jadi sepanjang ini kalian suka make love ya sama Eka , sementara itu saya yakin kalian tidak hendak begitu sama adikku”
“ Maaf Mbak, saya gak ketahui kalo yang didalam itu Mbak Wati” Kataku sembari mataku memandang wajah Wati.
Rambutnya yang gelap sepundak tergerai basah. Dada yang putih dengan belahan yang nampak lumayan dalam. Paha yang putih lembut serta kencang sampai betis yang terpelihara apik. Jika menurutku Wati boleh menemukan angka 8 sampai 8, 5.
“ Kemudian kalo bukan Mbak mengapa?, Kalian enggak ingin mencium Mbak, buat Mbak puas, emandikucingkan Mbak semacam yang kalian bilang tadi?” Tanya Wati memancingku.
“ Saya sih ingin aja Mbak kalo Mbak kasih” Jawabku langsung tanpa pikir lagi sembari melangkah ke tempat tidur.
Karena bagaikan pria wajar saya telah tidak kokoh menahan nafsuku memandang sesosok perempuan menawan yang nyaris tentu telanjang sebab baru berakhir mandi. Belum lagi panorama alam dada serta putih lembut yang sangat menggoda.
“ Kalian telah lama make love dengan Eka , Ren?” Tanya Wati kala saya duduk di sebelah kirinya. Saya tidak langsung menanggapi, sehabis duduk di sebelahnya saya mencium wangi harum badannya.
“ Badan Mbak harum sekali”, kataku sembari mencium lehernya yang putih serta jenjang.
Wati menggeliat serta mendesah kala lehernya kucium, mulutku juga naik serta mencium bibirnya yang mungil serta merah merekah. Wati juga membalas ciumanku dengan hangatnya. Lama- lama kumasukkan lidahku ke dalam rongga mulutnya serta lidah kami juga silih bersentuhan, perihal itu membuat Wati terus menjadi hangat.
Perlajan tangan kiriku menyelusup ke dalam bath robenya serta meraba payudaranya yang kenyal. Sembari terus berciuman kuusap serta kupijat lembut kedua payudaranya bergantian. Payudaranya juga kian membeku serta putingnyapun mulai naik. Sesekali kumainkan putingnya dengan tanganku sembari terus melumat bibirnya.
Saya juga mengganti posisiku, kurebahkan badan Wati di tempat tidur sembari terus melumat bibirnya serta meraba payudaranya. Sehabis badan Wati rebah, lama- lama mulutku juga turun ke lehernya serta tanganku juga menarik tali pengikat bathrope- nya.
Sehabis talinya terlepas kubuka bathropenya. Saya menyudahi mencium lehernya sebentar buat memandang badan perempuan yang hendak kutiduri sebentar lagi, sebab saya belum sempat badan Wati tanpa seutas benang sedikitpun. Sangat panorama alam yang indah serta tanpa cela sedikit juga.
Payudaranya yang putih serta tegak menantang berdimensi 36 C dengan puting yang telah naik sangat menggairahkan.
Pinggang yang ramping sebab perutnya yang kecil. Bulu halus yang berkembang di dekat selangkangannya nampak apik, bisa jadi Wati baru saja mencukur rambut kemaluannya. Sangat panorama alam yang sangat indah.
Kembali kulumat bibir Wati sembari tanganku mengelus payudaranya serta lambat- laun turun ke perutnya.
Ciumanku juga turun ke lehernya. Desahan Wati juga kian terdengar. Lama- lama mulutku juga turun ke payudaranya serta menciumi payudaranya dengan leluasanya. Payudaranya yang kenyal juga membeku kala saya mencium sekitar payudaranya.
Tanganku yang lagi mengelus perutnya juga turun ke pahanya. Terencana saya membelai sekitar vaginanya dulu buat memancing respon Wati.
Kala tanganku mengelus paha bagian dalamnya, kaki Wati juga merapat. Terus kuelus paha Wati sampai kesimpulannya lama- lama tanganku juga ditarik oleh Wati serta ditunjukan ke vaginanya.
“ Elus dong Ren, Supaya Mbak ngerasa lezat Ren” Ucapnya sembari mendesah.
Bibir Miss V Wati telah basah kala kesentuh. Kugesekan jariku sejauh bibir kemaluan Wati, serta Wati juga mendesah. Tangannya meremas kepalaku yang masih terletak di payudaranya.
“ Ahh, terus Ren”, Pinggulnya kian bergyang hebat sejalan dengan rabaan tanganku yang kian kilat. Jari- jariku kumasukkan kedalam lubang vaginanya yang semakn basah.
“ Ohh Ren lezat sekali Ren”, desah Wati kian hebat serta goyangan pinggulnya kian kilat.
Jariku juga terus menjadi bebas bermain dalam lorong kecil Miss V Wati . Kucoba masukan kedua jariku serta desahan dan goyangan Wati kian hebat membuatku terus menjadi terangsang.
“ Ahh Ren”, Wati juga merapatkan kedua kakinya sehingga tanganku terjepit di dalam lipatan pahanya serta jariku masih terus mengobok- obok vaginanya Wati yang kecil serta basah.
Remasan tangan Wati di kepalaku terus menjadi kencang, Wati semacam lagi menikmati puncak kenikmatannya. Sehabis berlangsung lumayan lama Wati juga melenguh panjang jepitan tangan serta kakinya juga mengendur.
Peluang ini langsung kupergunakan sedini bisa jadi buat melepas kaos serta celana jeansku. Penisku telah tegang sekali serta terasa tidak aman sebab masih tertekan oleh celana jeansku.
Sehabis saya tinggal mengunakan CD saja kuubah posisi tidur Wati . Semula segala tubuh Wati terdapat di atas tempat tidur, Saat ini kubuat cuma pinggul ke atas saja yang terdapat di atas tempat tidur, sebaliknya kakinya menjuntai ke dasar.
Dengan posisi ini saya dapat memandang Miss V Wati yang merah serta indah. Kuusap sesekali vaginannya, masih terasa basah. Akupun mulai menciumi vaginanya. Terasa lengket tetapi harum sekali. Kukira Wati senantiasa melindungi bagian kewanitaannya ini dengan tertib sekali.
“ Terus Ren”, desahnya. Tanganku yang lagi meremas pantatnya yang padat ditariknya ke buah dada. Tnagnku juga bergerak meremas- remas payudaranya yang kenyal. Sedangkan lidahku terus menerus menjilati vaginanya. Kakinya menjepit kepalaku serta pinggulnya oun bergerak tidak beraturan. 10 menit perihal ini berlangsung serta Wati juga menalami orgasme yang kedua.
“ Ahh Ren, saya keluar Ren”, saya juga merasakan cairan hangat yang keluar dari vaginanya. Cairan itu juga kujilat serta kuhabiskan serta kusimpan dalam mulutku serta secepatnya kucium bibir Wati yang lagi terbuka supaya ia merasakan cairannya sendiri.
Lama kami berciuman, serta lama- lama posisi penisku telah terletak pas didepan vaginanya. Sembari terus menciumnya kugesekkan ujung penisku yang mencuat keluar CD ku ke bibir vaginanya. Tangan Wati yang semula terletak disamping bergerak ke arah penisku serta menariknya. Tangannya mengocok penisku lambat- laun.
“ Besar pula memiliki kalian Ren, panjang lagi” Ucap Wati di sela- sela ciuman kami.
Sembari masih berciuman saya membebaskan CDku sehingga tangan Wati dapat bebas mengocok penisku. Sehabis 5 menit akupun menepis tangan Wati serta menggesekkan penisku dengan bibir vaginanya. Posisi ini lebih lezat dibanding dikocok.
Lama- lama saya mulai memusatkan penisku kedalam vaginanya. Kala penisku mulai masuk, tubuh Wati juga sedikit terangkat. Terasa basah sekali namun nikmat. Lobang vaginanya lebih kecil dibanding Eka , ataupun bisa jadi sebab lubang vaginanya belum terbiasa dengan penisku.
“ Ahh Rensha.. Begitu sayang, lezat sekali sayang” Racaunya kala penisku bergerak maju mundur. Pinggul Wati juga terus menjadi liar bergoyang mengimbangi gerakanku. Akupun terus menciumi bagian balik lehernya.
“ Ahh..” desahnya terus menjadi jadi. Akupun terus menjadi bernafsu buat terus memompanya. Terus menjadi kilat gerakanku terus menjadi kilat pula goyangan pinggul Wati . Kaki Wati yang menjuntai ke dasar juga bergerak melingkari pinggangku. Akupun mengganti posisiku sehingga segala tubuh kami terdapat di atas tempat tidur.
Sehabis segala tubuh terdapat diatas tempat tidur, akupun menjatuhkan dadaku diatas buah dada besar serta kenyalnya. Tanganku juga bergerak ke balik pinggulnya serta meremas pantatnya yang padat.
Goyangan Wati juga terus menjadi menggila oleh remasan tanganku di pantatnya. Sebaliknya pinggulku juga terus menerus bergerak maju mundur dengan kilat serta goyangan pinggul Wati yang terus menjadi liar.
“ Ren.. Kalian hebat Ren.. Terus Ren.. Penis kalian besar keras serta panjang Ren.. Terus Ren.. Goyang lebih kilat lagi Ren..” begitu racau Wati di sela kenikmatannya.
Saya juga terus menjadi kilat menggerakkan pinggulku. Miss V Wati memanglah lebih lezat dari Eka adiknya. Lebih kecil sehingga penisku sangat menikmati terletak di dalam vaginanya. Goyangan Wati yang kian liar, desahan yang tidak beraturan membuatku terus menjadi bernafsu serta memesatkan gerakanku.
“ Mbak saya ingin keluar Mbak” Kataku.
“ Di dalam aja Ren supaya lezat” desah Wati sembari tangannya memegang pantatku seakan ia tidak ingin penisku keluar dari vaginanya sedikitpun.
“ Ahh” Desahku dikala saya memuntahkan seluruh cairanku kedalam lubang rahimnya.
Tangan Wati menekan pantatku sembari pinggulnya mendesak keatas, seakan ia masih mau melanjutkan lagi, matanya juga terpejam. Saya juga mencium bibir Wati . Dengan posisi badanku masih diatasnya serta penisku masih dalam vaginanya. Mata Wati terbuka, ia membalas ciuman bibirku sampai lumayan lama. Tubuhnya basah oleh keringatnya serta pula keringatku.
“ Kalian hebat Ren, saya belum sempat sepuas ini tadinya” Kata Wati .
“ Mbak pula hebat, Miss V Mbak kecil, legit serta harum lagi.” Ucapku.
“ Memanglah Miss V Eka enggak” senyumnya sembari menggoyangkan pinggulnya.
“ Sedikit lebih kecil Mbak memiliki dibandingkan Eka ” jawabku sembari menggerakkan penisku yang masih menancap di dalamnya. Tampaknya Wati masih mau melanjutkan lagi pikirku.
“ Penis kalian masih keras Ren?” tanya Wati sembari memutar pinggulnya.
“ Masih, Mbak masih ingin lagi?” tanyaku
“ Ingin tetapi Mbak diatas ya” Kata Wati .
“ Cabut dahulu Ren”
Sehabis dicabut, mulut Wati juga bergerak serta mencium penisku, Wati mengulum penisku terlebih dulu sembari membagikan vaginanya padaku. Kembali terjalin pemanasan dengan posisi 69. Desahan- desahan Wati , Miss V Wati yang harum membuatku melupakan Eka sedangkan waktu.
Hari itu semenjak jam 5 sore sampai besok paginya saya bercinta dengan Wati , entah berapa kali kami orgasme. Serta itu juga berlangsung nyaris tiap malam sepanjang Eka belum kembali dari Praktek Kerjanya di yogya sepanjang 2 bulan lebih. Kupikir mumpung Eka tidak terdapat kucumbu saja kakaknya dahulu.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar